Hello elisagirlmeetworld
friends....!!!
“ ZERO TO HERO” karangan Solihin Abu Izzudin.
- Imam Malik tidak tertidur saat belajar, ini cara unik para ulama dalam meluarbiasakan dirinya. Ibnul Qosim, seorang ulama fiqh Mesir yang mengisahkan “ Aku pernah mendatangi Imam Malik sebelum waktu fajar. Aku tanyakan dua masalah, tiga atau empat masalah, dan saya melihatnya benar-benar dalam suasana lapang. Kemudian saya mendatanginya hampir setiap waktu sahur. Terkadang karena lelah, mataku terkatup dan aku tertidur. Ketika Imam Malik keluar ke mesjid aku tidak mengetahuinya. Kemudian aku dibangunkan oleh pembantunya seraya mengatakan, “ gurumu tidak tertidur seperti dirimu”.padahal saat ini usianya teah mencapai empat puluh sembilan tahun. Setahuku ia nyaris tak sholat kecuali dengan wudhu, untuk sholat isya ( Tartibul Madarik, 3/250, dari Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Surga)
- · Metode Imam Syafi’i
Imam Syafi’i rahimahullah membagi waktu malamnya
menjadi tiga yakni sepertiga pertama untuk menulis ilmu, sepertiga kedua untuk
shalat malam, dan sepertiga ketiga untuk tidur
- · Metode Abu Hurairah
Abu Hurairah ra dan keluarganya menghidupkan
waktu malamnya menjadi tiga. Bedanya yang dibagi orangnya, semacam khirosah
atau jaga malam secara bergantian. Mula-mula ia berjaga sambil shalat sepertiga
malam. Kemudian dilanjutkan oleh istrinya sepertiga malam, dan sepertiganya
lagi dimanfaatkan oleh putrinya. Dengan begitu tidak satu pun yang berlalu setiap
malam dirumah Abu Hurairah melainkan berlangsung disana ibadah, dzikir dan
shalat.
- · Prioritas Waktu
Adapun ulama salaf memberikan kiat untuk
memanfaatkan waktu untuk aktifitas belajar adalah sebagai berikut :
“ waktu yang terbaik untuk menghafala adalah waktu
sahur, sebelum fajar.
“ waktu pagi untuk meneliti”
“waktu tengah hari untuk menulis”
“waktu malam untuk menelaah dan mengulang”
( Efisiensi Waktu, Jasim Badr Al Muthawwi’)
- Metode Belajar Ibnu Jarir Ath Thabari
Diceritakan oleh Al Khatib Al Baghdadi,
bahwa selama empat puluh tahun dari penghujung usianya, Ibnu Jarir menulis
sebanyak empat puluh halaman setiap hari. Yang istimewa dari prestasi Ibnu
Jarir ini meskipun ia menulis artikelnya selepas dzuhur hingga waktu ashar
tiba, tetapi murajaah akan ilmu serta ide-ide yang akan ia tuangka dalam
tulisanya, didapatkan di awal-awal subuh, setelah menunaikan qiyamullail.
Salah seorang murid Ibnu Jarir, Abu Bakar
Asy Syajari mengisahkan, “ setelah selesai sarapan pagi, beliau tidur sejenak
dengan pakaian berlengan pendek. Setelah bangun ia mengerjakan shalat zhuhur.
Lalu menulis hingga waktu ashar tiba, kemudian keluar untuk shalat ashar.
Selanjutnya ia duduk didalam majelis bersama orang-orang untuk mengajar sampai
datang waktu maghrib. Setelah itu mengajar fiqh serta pelajaran-pelajaran
sampai masuk shalat isya. Kemudian pulang kerumah dan istirahat. Tengah malam
ia bangun malam dan mendalami ilmu-ilmunya.